msnSuami Istri

Grandsyekh kita mengatakan bahwa istri-istri mempunyai tiga kewajiban terhadap suami-suami mereka. Ini saja, tidak ada kewajiban lainnya yang dapat dibebankan seorang suami pada mereka.

Kewajiban pertama adalah bahwa istri harus berada di bawah kehendak suaminya. Ia harus menjadi bayangannya, apa yang ia sukai dan yang tidak disukai haruslah sama dengan apa yang disukai dan tidak disukai oleh suaminya. Bila tindakannya bertentangan dengan kehendak suaminya, ia bukanlah seorang istri dalam pandangan para Awliya.

Kewajiban kedua adalah menjaga harta miliknya. Ia tidak boleh membelanjakan hartanya tanpa seizin suaminya bahkan jika ia mempunyai uang yang banyak. Jika suaminya mengizinkannya, ia boleh membelanjakan semuanya. Ini adalah adab.

Ketiga, ia harus menjaga kehormatan suaminya ketika sedang tidak bersamanya. Ia tidak boleh duduk bersama orang lain dalam ketidakhadiran suaminya, bahkan dengan saudaranya sendiri. Ketika seorang pria dan wanita duduk bersama, Setan selalu menjadi orang ketiga. Di masa lalu ketika seorang pria mengetuk pintu, seorang wanita harus menjawabnya dengan ibu jarinya berada di dalam mulutnya sehingga suaranya tidak begitu enak didengar.

Abu Muhammad al-Madani (semoga Allah rida dengannya) adalah paman dari Syekhnya Grandsyekh kita, Sayyid Syarif ud’din Daghestani (semoga Allah rida dengannya), dan beliau adalah seorang Wali. Tidak seorang pun berani bertanya padanya atau mengangkat wajah di hadapannya, begitu agungnya beliau. Namun demikian, beliau berkata bahwa beliau lebih senang untuk menjadi seorang wanita daripada pria! Beliau mengatakan hal ini karena seorang wanita hanya mempunyai ketiga kewajiban ini, dan jika ia mengindahkannya maka ia akan masuk Surga tanpa ditanya dengan berbagai pertanyaan. Di lain pihak, seorang pria akan ditanya dengan berbagai pertanyaan hingga ia berharap bahwa ia adalah sebutir kotoran! “Aku mengatakan hal ini karena aku adalah hamba yang lemah,” kata Abu Muhammad. “Jika suami rida dengan istrinya, Allah juga rida pada mereka.”

Sekarang ini, kaum wanita meminta agar mereka diperlakukan seperti pria, berharap mereka juga menanggung beban yang sama. Ini karena kurangnya hikmah. Para wanita mempunyai kesempatan yang sama seperti pria untuk pengembangan spiritual di Hadirat Ilahi, tetapi mereka diciptakan dengan cara yang berbeda. Sisi batin mereka berbeda. Pria adalah orang yang keras sedangkan wanita lembut. “Kaum pria adalah pengendali kaum wanita,” begitu Allah berfirman. Jiwa kaum pria adalah tajali dari kesempurnaan Allah sedangkan jiwa wanita adalah tajali dari keindahan Allah. “Jamal,” “Kamal,” “Jalal” keindahan, kesempurnaan, dan keagungan.

Mawlana Shaykh Nazim ( ق )

Filed under: Mawlana Syekh Nazim

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!