AHBABURROSUL-1

Suhbat Mawlana Syaikh Hisham Kabbani di Masjid Baitul Ihsan 25 Sep 2016

Jumat, September 30th 2016. | Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

a44762d3-5a32-42cb-a536-9b8ffcfe66bf
Assalamu ‘alaykum wa rahmatullah,Berikut catatan kecil Suhbat Mawlana Syaikh Hisham Kabbani di Masjid Baitul Ihsan, hari Ahad lalu. Mudah-mudahan bermanfaat buat yang tidak dapat hadir.

Suhbat Mawlana Syaikh Hisham Kabbani
Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta
Ahad, 25 September 2016

Setelah sambutan Gubernur Bank Indonesia, Bapak Agus Martowardojo.
Jawaban Mawlana Syaikh Hisham Kabbani, diterjemahkan oleh Habib Novel Alaydrus:

Beliau (Bapak Agus) orang yang baik, Mawlana Syaikh Hisham mendoakan beliau dan keluarganya serta hadirin. Semoga beliau tetap bertugas sebagai Gubernur Bank Indonesia, karena beliau orang yang bersih.
Mawlana Syaikh Hisham mengatakan bahwa beliau adalah tamu, dan tidak mau masuk ke dalam urusan politik. Namun, wajib bagi beliau untuk mendoakan. “Athi’ullaha wa athi’urrasuula wa ulil amri minkum”.
Mawlana Syaikh Hisham akan mendampingi beliau dan orang-orang di Indonesia agar apa yang di pikirannya benar. Karena Indonesia memiliki jumlah ummat Islam yang besar, dan seluruh ummat Islam melihat ke Indonesia. Tapi, masih ada orang miskin di Indonesia, dan ada orang kaya. Semoga yang kaya bias membantu yang miskin.
Suhbat Utama (terjemah oleh Habib Novel Alaydrus Solo)

Ta’awudz dan Basmalah
Tahmid dan Sholawat

Indonesia adalah pusatnya anak cucu Nabi Muhammad (SAW). Negeri ini adalah negeri yang mencintai Nabi Muhammad (SAW), lebih daripada Negara-negara Arab. Qasidah (pujian kepada Nabi, red.) disebut setiap hari di negeri ini.
Seorang pemimpin bertugas untuk mengawasi mereka yang dia pimpin. Dan kita memiliki pemimpin Rasulullah Muhammad (SAW), yang tidak rela satu pun ummatnya masuk neraka. Beliau (SAW) selalu mendoakan ummatnya, “Ummatii, Ummatii…” Dan kita memiliki pemimpin yang kokoh yang bias diandalkan, Nabi Muhammad (SAW).
Zaman ini adalah zaman kehancuran (Al-Haraj): pembunuhan. Saat ini di belahan dunia yang lain ada banyak pembunuhan. Alhamdulillah di Indonesia tidak terjadi. Ini adalah bagian dari perlindungan Allah Ta’ala.
Rasulullah SAW bersabda “Hubbul wathan min al-Iimaan”, “Cinta tanah air bagian dari Iman.”
Seluruh manusia adalah bagian dari Ummat Nabi (SAW). Jika beliau (SAW) lahir di zaman Nabi Nuh (AS), maka Nabi Nuh (AS) harus mengikuti Nabi Muhammad (SAW). Jadi, semua manusia pada hakikatnya adalah Ummat ud-Da’wah, ummat yang diseru oleh Rasulullah (SAW). Ummat manusia yang menerima adalah Ummat ul-Ijabah, yang menerima dakwah Rasulullah (SAW). Sedangkan yang belum menerima, mungkin akan menerima nantinya.

Firman Allah Ta’ala:
Athi’ullaaha wa athi’ur Rasuula wa ulil amri minkum [QS An-Nisa’ 4: 59]
“Ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul dan Ulil Amri di antara kalian”

Mereka yang mendengar ayat ini akan diberi kemampuan untuk menaati Allah. Ta’atilah Rasul (SAW).
Dan yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah Awliyaullah. Dan ulil amri ini ada level-levelnya:
1. Sahabat Nabi SAW
2. Kekasih Allah
3. Ulama’
4. Pemangku Jabatan
Nabi (SAW) selalu berdoa “Ummatii ummatii”, saat kelahirannya, saat perjalanan hidupnya “Ummatii Ummatii…”, ketika beliau akan wafat, juga terucap “Ummatii Ummatii…”. Dan nanti ketika Hari Kebangkitan, yang terucap pertama saat beliau (SAW) dibangkitkan adalah juga “Ummatii… Ummatii…”.
Beliau (SAW) akan bertanya kepada Jibril (AS), “Apakah hisab / perhitungan sudah selesai?” Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT dengan doa yang belum pernah beliau lakukan. Allah SWT mengabulkan doa Rasulullah SAW, kecuali atas beberapa orang yang zholim. Rasulullah SAW bersedih. Keesokan harinya, beliau (SAW) berdoa kembali memohon ampunan Allah SWT untuk seluruh ummatnya termasuk mereka yang zholim. Allah SWT pun mengampuni semua ummat beliau (SAW). Barulah ketika itu, Nabi (SAW) tersenyum dan tertawa. Sahabat Abu Bakar (RA) dan ‘Umar bin Khattab (RA) pun keheranan dan bertanya pada Rasulullah (SAW) apa yang menjadi sebab beliau (SAW) bersedih semalam dan sekarang tertawa bahagia. Rasulullah (SAW) menjawab bahwa Iblis la’natullah ‘alayh sampai mengais-ngais pasir ke mukanya sendiri, melaknat dirinya sendiri karena merasa jengkel akan diampuninya semua ummat Nabi (SAW) tanpa terkecuali.

Allah SWT berfirman dalam Quran surat An-Nisa’ ayat 64:
Wa lau annahum idz zholamuu anfusahum jaa-uuka fastaghfarullaha wastaghfara lahum ur-rasuulu la wajadu ‘Llaaha tawwaban rahiiima
“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini membuat para Ulama’ menjadi kebingungan dan terpana. “Seandainya mereka menzhalimi diri mereka sendiri, mendatangi Rasulullah (SAW)…”
Dan kelompok orang zhalim ada dua:
1. Zhalim pada dirinya sendiri
2. Zhalim pada orang lain

Termasuk orang yang zhalim pada dirinya adalah orang baik, ahli ‘ibaadah, tetapi masih mengikuti bisikan hawa nafsunya. Ini zholim. Sedangkan mereka yang zholim pada orang lain, ini jelas, yaitu mereka yang mengambil hak-hak orang lain.

Ketika mereka menzhalimi diri mereka sendiri, seandainya mereka mau mendatangi dirimu, yaa Rasulallah. Maknanya, Rasulullah (SAW) hadir “amaama Ummatih”, di depan ummat beliau (SAW), yang mau memohon ampunan. Pada zaman sahabat, mereka tinggal datang dan berbicara langsung kepada Rasulullah (SAW). Sedangkan ayat ini berlaku universal, termasuk untuk zaman sekarang.
Artinya pula, untuk kita sekarang, sehebat apa pun istighfar kita, tidak akan maqbul, kecuali dengan wasilah Rasulullah (SAW).
Rasulullah (SAW) hadir di hadapan kita. Ada yang bisa melihat, ada pula yang tidak bisa melihat.

“Man ro-aaniii fi l-manaam, fa qad ro-anii haqqan” [Al-Hadits]

“Siapa yang melihatku dalam tidurnya, sungguh ia telah melihatku” [Al-Hadits]

“Fastaghfarullah wastaghfara lahumu r-rasuul”
Mereka memohon ampunan kepada Allah di hadapan Rasul (SAW) dan engkau (wahai Rasul) memohonkan ampunan bagi mereka.
Maka “La wajadu ‘Llaaha tawwaban rahiimaa” (mereka akan mendapati Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang).
Namun, jika diwaqafkan pada kalimat Allah:
“La wajadu –‘Llaah” maka mereka akan menjumpai Allah, artinya ma’rifat kepada Allah.

Nabi (SAW) pernah bersabda bahwa amal ummatnya selalu dilaporkan kepada beliau. Bila baik, beliau (SAW) akan memuji Allah, dan bila buruk, beliau (SAW) akan beristighfar baginya.

Begitu ada ummat yang punya niat untuk meminta ampun, Rasul (SAW) sudah akan bersiap di hadapannya. Ada yang bisa melihat beliau. Terserah Rasulullah (SAW) dalam bentuk apa beliau ingin menemui kita.

Saat tadi kita beristighfar: Astaghfirullaaah…. Astaghfirullaaah…. Astaghfirullaaah, Laa syakk, tidak ada keraguan bahwa Rasulullah (SAW) tengah hadir di antara kita.

Istighfar seseorang menyebabkan Rasulullah (SAW) hadir di hadapannya dan Rasul (SAW) pun memintakan ampunan baginya.

Lawajadu ‘Llaah  ma’rifat Allah.

Orang tersebut akam mabuk dengan ma’rifat Allah, akan melihat maa laa ‘aynun ra’at wa laa udzunun sami’at wa laa khathoro ‘alaa qolbi l-basyar, apa-apa yang belum pernah dilihat mata, belum pernah terdengar telinga, dan belum pernah terlintas pada hati manusia.

Bila sudah dalam keadaan seperti itu, maka Allah SWT berfirman:
Qul in kuntum tuhibbuunallaaha, fa ‘t-tabi’uunii, yuhbibkumu ‘Llaaha wa yaghfirlakum dzunuubakum” [QS Ali ‘Imran 3: 31]
Katakanlah: “Jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”

Maka fattabi’uunii, ikuti aku (yaitu Rasulullah SAW), maka ia akan menjadi mahbub, orang yang dicintai Allah SWT karena selalu menyertai dan disertai Rasulullah (SAW). Dan diampuni segala dosa-dosanya.

Jangan mengira ketika kita beristighfar 100x, maka makna istighfar pertama akan sama dengan yang kedua dan seterusnya. Meskipun kalimatnya sama, maknanya akan selalu berbeda-beda.

Rasulullah (SAW) selalu beristighfar, bukan karena beliau berdoa, tetapi karena pada setiap istighfar ada karunia yang berbeda.

Subhanallahu wa bihamdihi, Subhanallahi l-‘azhiim, Astaghfirullaah.

Al-Istighfar yuftahu l-‘ilmi, Istighfar adalah kunci pembuka ilmu. Banyak ilmu-ilmu yang terkunci dan untuk membukanya dengan istighfar.

Misalnya ketika kita membaca Subhanallahu wa bihamdihi, subhanallah il-‘azhiim, Astaghfirullah 100x, tiap kali istighfar, ruh Rasulullah SAW akan hadir. Semakin banyak istighfar, hijab kita akan dicabut hingga kita dapat melihat Rasulullah (SAW).

Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyyah, seorang wali Allah perempuan, beliau tidak pernah berhenti beristighfar. Kalau tidak sedang shalat sunnah, maka beliau akan beristighfar. Beberapa ulama’ bertanya pada beliau, “Wahai Rabi’ah, suamimu sudah lama meninggal dunia, segeralah menikah.” Rabi’ah pun menjawab, “Saya sibuk.” Para ulama’ tadi bertanya lagi, “Engkau sibuk apa?” Rabi’ah menjawab, “Sibuk beristighfar.” Para ulama tadi bertanya lagi, “Apa yang kau dapat dari istighfarmu?” Rabi’ah menjawab, “Tahukah kalian apabila aku mati apakah aku akan mati mulia dalam keadaan beristighfar atau akan mati terhina?” Para Ulama’ menjawab, “Itu Ilmu Allah, kami tidak tahu.” Rabi’ah pun menimpali, “Kalau begitu, aku pun tidak dapat mengatakan apa rahasia istighfar pada kalian.”

Mereka yang beristighfar, istighfarnya akan mendahuluinya ke dalam quburnya, dan ia pun akan wafat dalam keadaan telah diampuni.

Wassalamu ‘alaykum wa rahmatullah wa barakaatuh.

Mawlana Syaikh Hisham Kabbani dan terjemah oleh Habib Novel Alaydrus.

20160315214810

Related For Suhbat Mawlana Syaikh Hisham Kabbani di Masjid Baitul Ihsan 25 Sep 2016


Copyright © 2013 MAJELIS AHBABURROSUL