AHBABURROSUL-1

Menyambut Ramadhan

Minggu, Juni 5th 2016. | Taklim Ahbaburrosul

ahbaburrosul 04Tausiah dari habib seif Alwiy ba’aalawiy
4 June 2016 – Masjid al ukhuwah , Karawang
(Mohon maaf atas kurang lebihnya dalam penulisan ini)
Alhamdulillah,
اللَّهُمَ صَلِّ عَلَى سَيـِـدِنـَا مُحَمَّدٍ الفـَـاتـِحِ لِمَا أُغـْـلِقَ . وَالخــَـاتــِـمِ لِمَا سـَـبـَـقَ نَاصِرِ الْحَقِ بِالْحَقِ وَالهـَـادِي إلىَ صِراطِكَ المُسْـتَـَقـِـيمِ. وَعَلىَ آلِهِ حَــقَّ قــَـدْرِهِ وَمِقـْـدَارِهِ العـَـظـِـيــم
” Allahumma Sholli alaa sayyidinaa Muhammadinilfaatihi limaa ughliqo wal khotimi limaa sabaqo nashiril haqqi bil haqqi wal haadii ilaa shirotikal mustaqim wa ‘alaa aalihii haqqo qodrihi wa miqdarihil ‘aziim.”

Ngaji itu penting, karena jika tidak ngaji, kita tidak tahu rukun rukunya ibadah, seperti contohnya:
1. sodaqoh, shodaqoh itu juga ada ilmunya, tidak asal memberi saja. Ilmu shodaqoh diantaranya adalah memberi dengan ikhlas, dan tidak mengungkit ngungkit shodaqoh yang sudah pernah kira berikan kepada siapapun karena itu akan menghilangkan pahala shodaqoh itu sendiri. Bersedekahlah dengan ikhlas, jika pemberian itu dilakukan dari relung hati yang dalam (ikhlas), maka akan diterima di hati penerima.
2. Puasa,, walaupun puasa adalah urusan Allah swt dengan orang yang berpuasa mengenai penghargaan/pahala yang akan diberikan, namun aturan puasa tetap Allah swt berian kepada manusia melalui maaikat Jibril.
MENGENAI PENENTUAN PUASA DAN IDHUL FITRI
Rasulullah s.a.w. teah emmberi guidance/petunjuk bagaimana cara menentukan hilal:

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad berkata, aku mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, atau katanya Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh”. (HR Bukhari 1776)
Dan dituliskan dalam Firman Allah ta’ala yang artinya
”Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah membawakan dalam Bulughul Marom hadits no. 654,
وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Manusia sedang memperhatikan hilal. Lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihat hilal. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim.

Rasulullah s.a.w. melanjutkan puasa dan juga menyuruh sahabatnya berpuasa, sedang beliau tidak melihatnya sendiri. Karena sahabat ini bisa dipercaya.
Saat ini jaman yang semakin mengkhawatirkan, ada orang yang katanya maunya belajar mengenai agama langsung dari Quran dan hadist tanpa melalui ulama, padahal belajar baca Qurannya dari ustadz..(jadi tidak konsisten dengan ucapannya).
Padahal ilmu tajuwid itu tidak ada jaman rasulullah..jaman sahabat juga belum ada tajuwid.maka karena malu dengan kata kata bid’ah yang dibuat sendiri, ada sebagian orang belajar tajuwid bilangnya belajar tahsin..padahal isinya sama..idhar..iqlab.dsb., mereka tidak mau menggunakan istilah yang masyarakat sudah mengenalnya. (mereka inginnya exclusive).
Padahal jika mau dibahas..penomeran ayat Quran..dan pemberian JUZ itu tidak ada dijaman nabi , namun mereka enggan bilang ini bid’ah..
Satu lagi..mengenai 1 day 1 juz, apakah ada jaman rasul, bahwa rasululah memerintahkan membaca 1 juz dalam sehari? Tidak ada…ini tidak ada dalilnya, BUKANKAH INI BID’AH?
Tentunya bagi aswaja (ahlu sunnah wal jamaah), perbuatan baik itu bukanlah bid’ah.
Jika semua perkara yang tidak ada perintah dalilnya dikatakan bid’ah,..apa coba hukumnya menolong orang kejepit resleting?…ini tidak ada dalilnya, namun bagi aswaja..segala kebaikan adalah ibadah..menolong orang kejepit resleting itu kebaikan..itu artinya ibadah.
Satu lagi pendapat orang wahabi, meminta bantuan kepada selain Allah itu syirik…
Ada orang tenggelam, minta banuan sama tim SAR,apakah ini syirik? Tidak..ini tidak syirik..(silahkan direnungkan).

KEMBALI membahas mengenai HILAL,

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: – إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا” – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَرَجَّحَ النَّسَائِيُّ إِرْسَالَهُ
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang Arab Badui ada pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun berkata, “Aku telah melihat hilal.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah?” Ia menjawab, “Iya.” “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?“, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kembali bertanya. Ia pun menjawab, “Iya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memerintah, “Suruhlah manusia wahai Bilal agar mereka besok berpuasa.” Diriwayatkan oleh yang lima, yaitu Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshahihkanny),

عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ فَقَالَ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ ، ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلالَ فَقَالَ: مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلالَ ؟ فَقُلْتُ : رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ، فَقَالَ : أَنْتَ رَأَيْتَهُ ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ ، وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ ، فَقَالَ: لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاثِينَ أَوْ نَرَاهُ ، فَقُلْتُ : أَلا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ ؟ فَقَالَ: لا ، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Dari Kuraib: “Sesungguhnya Ummu Fadl binti al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Berkata Kuraib:” Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadlan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan)?” Jawabku : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” Jawabku: “Ya! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah Puasa”. Ia berkata: “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawal) “. Aku bertanya: “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (penglihatan) dan puasanya Mu’awiyah?” Jawabnya : “Tidak! Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami”. ( HR. Muslim [1087], Ahmad 1/306, Abu Dawud [2332], al-Tirmidzi [693], al-Nasa’i 4/131 dan Ibnu Khuzaimah [1916]).
Hadits di atas sangat tegas memberikan penjelasan, bahwa setiap daerah mengikuti hasil rukyatnya masing-masing dalam menentukan awal puasa dan hari raya. Dalam konteks ini, al-Imam Ibnu Khuzaimah menegaskan: “Hadist di atas merupakan dalil atas wajibnya tiap-tiap penduduk negeri untuk berpuasa Ramadhan berdasarkan karena ru’yah mereka, bukan ru’yah selain (negeri) mereka”. (Shahih Ibn Khuzaimah, juz 3 hlm 205).

Al-Imam Tirmidzi juga berkata :

وَالْعَمَلُ عَلىَ هَذَا الْحَدِيْثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ لِكُلِّ أَهْلِ بَلَدٍ رُؤْيَتُهُمْ
“Hadits ini telah diamalkan oleh para ulama, bahwa sesungguhnya tiap-tiap penduduk negeri mempunyai ru’yah sendiri “. (Sunan al-Tirmidzi, juz 3 hlm 76).

Arab saudi dan Indonesia berbeda waktu puasanya,maka kita wajib Ikuti Indonesia (arab dan Indoensia saaj waktunya beda dengan Indonesia 4 Jam).
Bagaimana dengan negara teangga, Malaysia, thailand,philipine dsb..maka tetep ikut yang disepakati oleh ulama Indoensia melalui pemerintah.
Indonesia itu banyak sekali ulama , jadi jangan beranggapan di Indonesia tidak ada ulama, gurunya K.H.Hasyim asyari dan K.H.Ahmad dahlan itu seorang syech mufti mekah yang berdarah Indonesia.

Dulu, orang pegunungan sangat sulit melihat hilal (tidak seperti oran yang tinggal dipanatai) ,maka digunakanlah metode hisab.
Jika sekarang seharus sudah tidak lagi,karena media nformasi sudah menyebar luas, maka penglihatan hilal oleh orang yang berada dipantai .bisa langsung sampai informasinya digunung.

Kita harus menghormati keputusan yang diambil oleh ummat muslim lainya,
Sama halnya saya di thariqah naqsbandy, musryid kami syech mhammad hisyam, dan syech muhammad nazim memmerintahkan seluruh murid diseluruh dunia agar mengikuti puasa dan idul fitri yang ditetapkan oleh pemerintah setempat.Mursyid mursyid saya ahli hadist, tahu mengenai hukum hukum Islam, maka keputusannya ini sudahh sesuai dengan syariat Islam…
namun saya menghormati jamah thoriqat naqsbandy padang yang berbeda dengan kami dengan menentukan puasa lebih awal.

(Bersambung tentang amalan amalan sunnah di bulan Ramadhan yang dianggap sesat oleh sekte minoritas, yaitu khawarij modern /wahabi).

20160315214810

Related For Menyambut Ramadhan


Copyright © 2013 MAJELIS AHBABURROSUL