AHBABURROSUL-1

SIKAP DALAM BERILMU

Rabu, April 27th 2016. | Samudera Ilmu

FB_IMG_1448195629407Bab : SIKAP DALAM BERILMU

وينبغى لأهل العلم أن لايذل نفسه بالطمع فى غير المطمع ويحترز عما فيه مذلة العلم وأهله. ويكون متواضعا، والتواضع بين التكبر والذلة، والعفة كذلك، ويعرف ذلك فى كتاب الأخلاق

“Dan sangatlah penting bagi orang yang ahli ilmu, sebaiknya tidak merendahkan atau menghinakan dirinya dengan sifat “TOMA” atau mengharapkan sesuatu yang tidak semestinya.

Dan seorang Ahli Ilmu hendaknya menghindari dirinya dari hal-hal yang dapat menghinakan Ilmu dan Ahli Ilmu.

Dan Ahli Ilmu harus bersikap rendah Hati (Tawadhu) yaitu sikap antara sombong dan rendah diri, serta bersikap “IFFAH”, yaitu menjaga diri dari perbuatan rendah dan Dosa.
Semua itu dapat dikaji dalam kitab Akhlak.

Adapun sifat “TOMA” atau rakus yang diperbolehkan dalam agama adalah kerakusan untuk ibadah dan mencari ilmu yang baik.

Rosululloh SAW Bersabda :
“Siapa orang yang Tawadhu, pasti akan diangkat derajatnya”

Tawadhu terhadap Allah SWT
Tawadhu atau rendah hati terhadap Allah SWT contohnya seperti saat sholat yang notabene menghadap Allah SWT.

Janganlah kalian sombong terhadap apa yang kalian miliki, karena kesombongan itu hanya milik Allah SWT.

Ingatlah bahwa apa yang kalian miliki akan kembali pada Allah SWT, maka Khusuklah kalian dalam sholat dengan cara mentstatmen (menyatakan – Red) bahwa sholat yang kita lakukan itu adalah sholat yang terakhir bagi kalian.

Tawadhu kepada Rosululloh
Ketika kita berhadapan dengan makhbaroh Rosululloh SAW, maka tawadhulah. Karena andaikan bukan karena washilah perjuangan Beliau mengenalkan Islam, maka niscaya kita tidak akan mengenal Allah SWT dan Al-Qur’an.

Bila kita benar benar malu kepada Allah SWT dan Rosululloh SAW, maka jangan pernah malu untuk melakukan pertaubatan kepada Allah SWT.

Mengapa kita bisa malu terhadap manusia, tapi kita tidak malu terhadap Allah SWT, padahal Alloh yang mengetahui rahasia di dalam diri kita.

Sungguh Allah SWT tidak memandang paras kalian, tidak pula memandang pada jasad kalian, apalagi pada kekayaan kalian. Tapi Allah SWT memandang pada qolbu qolbu dan jiwa-jiwa kalian. Jiwa yang nanti akan bertemu dengan Allah SWT atas kerinduannya.

Rosululloh SAW bersabda dalam sebuah Hadist :
“Siapa orang yang senang, yang rindu perjumpaan dengan Allah SWT, maka Allah SWT pun rindu pada perjumpaan itu”.

Ahli Ilmu tidak diperkenankan sombong.
Di suatu keterangan, orang yang sombong dihadapkan dengan orang yang sombong yang lain, merupakan shodaqoh, dengan tujuan untuk meredam kesombongan orang lain.

Dengan catatan kita tidak diperbolehkan berkelanjutan dalam hal kesombongan ini, jika ini terjadi, maka kita lebih buruk dari mereka. Untuk itu tetaplah yang di utamakan adalah Adab kepada sesama manusia.

Di dalam riwayat yang lain diterangkan Sahabat Rosululloh SAW pernah mendengar orang orang Kafir Qurays menjelek-jelekan Rosululloh SAW.

Lalu dilaporkanlah kepada Rosululloh perihal masalah itu, lalu memerahlah wajah beliau dan menegang urat kerongkongan nya, kemudian beliau menyatakan :
“Bahwa Allah SWT menciptakan mahluk-Nya, maka Allah SWT menjadikan Aku ciptaan yang terbaik”.

“Orang orang kafir Qurays mencela Rosululloh SAW dengan celaan “Engkau memang Rasul, tetapi kenapa seorang rasul keturunan dari orang orang buruk”.
Akhirnya Rosululloh SAW menantang kesombongan orang orang kafir Qurays dengan menenggelamkan mereka, dengan cara menegaskan dengan keterangan yang sebenarnya.

Jadi ketegasan bukan selalu karena kesombongan, karena semakin banyak orang awam yang sombong terhadap para ulama maka harus ada yang tegas untuk menenggelamkan kesombongan mereka.

Dan perlu kita pahami bahwa pada dasarnya kemampuan – kemampuan yang baru kita miliki itu ternyata hal tersebut adalah “washilah” dari ikhtiarnya seorang guru yang tajrid kepada Allah SWT.

— (Namun banyak dikalangan murid yang tidak paham akan hal itu, sehingga menganggap semua kemampuan yang dimiliki, adalah hasil ikhtiar dirinya sendiri – Red) —

Ada sesuatu pepatah yang menyatakan :
لولا المربي ما عرفت ربي

“Andaikan bukan karena Murobbi (Guru / Mursyid), aku tidak akan mengenal Tuhanku.”

Syaikh Imam Al Ajal dalam Syairnya menerangkan sebagai berikut :

أنشدنى الشيخ الإمام الأستاذ ركن الدين المعروف بالأديب المختار شعرا لنفسه:

إن الـتواضـع مـن خـصـال المـتقى وبه التقى إلى المـعالى يرتقى

ومن العجائب عجب من هو جاهل فى حالة أهو السعيد أم الشقى

أم كـيـف يخــتم عـمـره أو روحــه يوم الـنوى مـتسفل أو مرتقى

والـكـــبـريـاء لـربـنـا صــفـة لــــه مـخـصـوصة فتجـنبها واتقى

“Sungguh bahwa Rendah hati adalah sikap orang yang bertaqwa, dan kelak ia akan mendapat derajat yang tinggi ”

“Sungguh mengherankan orang yang tidak tahu apakah ia orang yang berbahagia atau celaka.”

“Atau bagaimana usia jiwanya diakhiri, apakah akan terpuruk dalam derajat hina atau akan mencapai derajat luhur”

“Kesombongan adalah sifat yang hanya menjadi milik Allah SWT, (maka jauhilah dan hindarilah.)”

قال أبو حنيفة رحمة الله عليه لأصحابه: عظموا عمائمكم ووسعوا أكمامكم. وإنما قال ذلك لئلا يستخف بالعلم وأهله

Dan berkata Imam Abu Hanifah kepada sahabat sahabatnya:

“Besarkanlah imamah (surban) kalian dan lebarkanlah lengan baju kalian”

Ungkapan ini dikemukakan agar ilmu dan ahli ilmu tidak dipandang remeh. Dan beliau memberikan sebuah pengajaran hendaknya kalian tidak merendahkan ilmu.

Dan ada satu pepatah lagi dari Al Imam Abu Hasan Asy Syatiri yakni :

“Kalian harus punya kasur yang empuk.

Kalian harus punya kendaraan yang bagus.

Kalian harus punya pakaian yang bagus.

Tujuanya apa?
Supaya kalian mampu mensyukuri nikmat Allah SWT, Dan kalian tidak toma terhadap Mahluk.

Seperti didalam firman Allah :
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Adapun Nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah”
(Q.S Adh Dhuha ayat 11)”

Syeikh Abdul Hasan pada masanya beliau mengajarkan agar para muridnya mampu / memiliki pakaian yang bagus.
Memiiliki pakaian yang bagus, bertujuan agar kalian tidak dihinakan oleh Allah SWT ketika sedang beribadah.

TENTANG KEBERADAAN WALI ABDAL
Al Hafidz Imam Ash Suyuthi berkata:
Diantara wali wali Allah SWT Ada istilah Wali Abdal, dijelaskan dalam Kitab ‘Aun Al-Ma’bud Juz 9 Hal 122

Penjelasan tentang Wali Abdal tidak terdapat dalam Kutubus sittah (Enam Kitab Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam Ath Tirmidzi, Imam An-Nasa’i Dan Imam Ibnu Majah).

Kecuali satu Hadist Riwayat Imam Abu Dawud Nomor Hadist 3737. dan diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya shohih. (Dan Riwayat Imam Ahmad Nomor Hadist 27446. Namun ada banyak Hadist tentang Wali Abdal yang diriwayatkan oleh selain 6 kitab Hadist tersebut antara lain yang disebutkan dalam Kitab ‘Aun Al-ma’bud yang merupakan Kitab Syarah (penjelasan) Kitab Sunan Abu Dawud.

Ath Thabrani menerangkan dalam Kitab Hadist nya :

لَنْ تَخْلُوَ اْلأَرْضُ مِنْ أَرْبَعِيْنَ رَجُلاً مِثْلَ خَلِيْلِ الرَّحْمَنِ فَبِهِمْ تُسْقَوْنَ وَبِهِمْ تُنْصَرُوْنَ مَا مَاتَ مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلاَّ أَبْدَلَ اللهُ مَكَانَهُ آخَرَ (ا أخرجه الطبرانى فى الأوسط رقم 4101 . قال الهيثمى والمناوي : إسناده حسن)

“Dunia tidak akan sepi dari 40 orang laki-laki yang seperti Nabi Ibrahim, kekasih Allah. Karena mereka inilah kalian diberi hujan dan diberi pertolongan. Tidak ada satu pun yang mati dari mereka kecuali Allah menggantikannya dengan orang lain”
(HR Thabrani No 4101, Al-Hafidz Al-Haitsami dan Al-Munawi berkata sanadnya Hasan)

Setidaknya ada dua ulama ahli hadist telah mengarang sebuah kitab khusus yang menjelaskan dalil-dalil keberadaan para Wali Abdal, diantaranya adalah Al-Hafidz Ash-Suyuthi dalam Al-Khabar Ad-Daal Fi Wujudi Al-Quthbi Wa Al-Autaad Wa An-Nujabaa’ Wa Al-Abdaal.

Dan Al-Hafidz As-Sakhawi (Murid Al-Hafidz Ibnu Hajar) dalam Nadzmu Al-La’al Fi Al-Kalaami ‘Alaa Al-Abdaal, dan secara khusus beliau menetapkan satu Bab tentang Al-Abdaal (Wali Badal) dalam kitab hadist nya Al-Maqaashid Al-Hasanah (1/43) dengan menyebut beberapa hadist yang hasan dan dhoif.

Diantaranya Riwayat Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, bahwa sahabat bertanya:

يَا رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنَا عَلَى أَعْمَالِهِمْ قَالَ يَعْفُوْنَ عَمَّنْ ظَلَمَهُمْ وَيُحْسِنُوْنَ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْهِمْ وَيَتَوَاصَلُوْنَ فِيْمَا أَتَاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Wahai Rosulullah, tunjukkan kepada kami tentang perilaku mereka (Wali Abdal) ? Rasulullah menjawab : Mereka pemaaf terhadap orang yang mendzaliminya, mereka berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya, dan mereka saling menyambung dalam pemberian dari Allah kepada mereka”

Selengkapnya kajian diatas : https://www.youtube.com/watch?v=SqviUX8BjlQ

Majelis Katib Ahbaburrosul – RNI, TNI, FLS, UNN, AHD

20160315214810

Related For SIKAP DALAM BERILMU


Copyright © 2013 MAJELIS AHBABURROSUL