AHBABURROSUL-1

TELADAN DARI MUSH’AB BIN ‘UMAIR

Rabu, November 11th 2015. | Kisah Islami

Mush’ab bin ‘UmayrMengenal pahlawan memang diperlukan sebagai bentuk penghormatan kita terhadap pengorbanannya. Dan di antara sederet nama pahlawan yang ada, rasa-rasanya sejarah emas Islam tidak mungkin pernah melupakan sebuah nama yang memiliki banyak andil dalam penyebaran dan dakwah Islam. Seorang sahabat yang tergolong berusia muda belia, namun keimanannya jauuh melebihi usianya yang muda tersebut. Beliau adalah Mush’ab bin ‘Umayr.

Siapakah sosok Mush’ab bin ‘Umayr ini?
Apa sajakah kelebihan dan keistimewaannya?
Lalu apakah peranannya di dalam Islam?

Mush’ab bin ‘Umayr adalah sesosok pemuda yang istimewa di zamannya, yang mengumpulkan banyak kebaikan di dalam dirinya, pemuda yang tampan, cerdas dan kaya raya. Bahkan kekaguman ini bukan hanya diungkapkan oleh lawan jenisnya saja, adalah Al Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah, ia berkata,

رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ

“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga”

Mush’ab bin Umayr dilahirkan di masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun 571 M, sehingga Mush’ab bin Umayr dilahirkan pada tahun 585 M.

Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy, nama lengkapnya adalah Mush’ab bin Umayr bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab Al Abdari Al Qurasyi.

Dalam kitab Asadul Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal Al Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (Al Jabiri, 2014: 19).

Rasulullah SAW bersabda,

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umayr.” (HR. Hakim).

Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makanan sudah ada di hadapannya.

Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umayr, seorang pemuda kaya yang mendapatkan banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.

Kisah Islamnya Mush’ab bin Umayr

Ikhwan wa akhowaty fiLlah rahimany wa rahimakumuLlah…

Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad  SAW adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah radhiyaLlahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lain.

Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu kian menguat, RasuluLlah SAW berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah Al Arqam bin Abi Arqam radhiyaLlahu ‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.

Mush’ab bin Umayr yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam.

Ia mendatangi Nabi Muhammad SAW di rumah Al Arqam dan menyatakan keimanannya. Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis RasuluLlah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Sampai akhirnya kemudian RasuluLlah  SAW mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.

Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.

Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umayr, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu, lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”.

Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya.

Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus. Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama RasuluLlah  SAW di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umayr dengan mengenakan kain burdah (sejenis kain yang biasa dijadikan selimut) yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika RasuluLlah SAW melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476)

Zubair bin Awwam mengatakan, “Suatu ketika RasuluLlah SAW sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umayr dengan kain burdah yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk sedih dan menangis. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi  Muhammad SAW memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda,

“Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).

Saad bin Abi Waqqash radhiayaLlahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umayr adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-tatih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleholeh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

Demikianlah perubahan keadaan Mush’ab ketika ia memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan secara materi.

Kenikmatan-kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya.

Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaan yang ia alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya.

Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.

Peranan Mush’ab Dalam Islam

Mush’ab bin Umayr adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi Muhammad mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah. Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah

Di sana ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Sa’ad bin Muadz.

Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umayr dan pemahamanannya yang bagus terhadap Al Quran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Sa’ad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Sa’ad bin Muadz.

Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”.

Sa’ad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak dan adil”.

Mush’ab pun menjelaskan kepada Sa’ad apa itu Islam, lalu membacakannya Al Quran. Sa’ad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umayr radhiyaLlahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”.

Kemudian Sa’ad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?”

“Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab.

Sa’ad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Sa’ad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.Lalu Sa’ad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!

Kisah Syahidnya Mush’ab bin Umayr

Mush’ab bin ‘Umayr adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa.

Muhammad bin Syurahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata, Mush’ab bin Umayr radhiyaLlahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah Al Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah RasuluLlah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya.

Lalu Mush’ab membaca ayat,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran : 144)

Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut.

Setelah Mush’ab gugur, RasuluLlah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Siroh Ibnu Ishaq, Hal. 329)

Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.

Setelah perang usai, RasuluLlah SAW memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur.

Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, RasuluLlah SAW mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umayr yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat,

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab : 23

Kemudian beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah.

Setelah itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”

Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah, yang sendainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya.

Sehingga RasuluLlah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.

Para Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umayr

Di masa kemudian, setelah umat Islam jaya, Abdurrahman bin ‘Auf radhiyaLlahu ‘anhu.yang sedang dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umayr. Ia berkata, “Mush’ab bin Umayr telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah”. (HR. Bukhari no. 1273)

Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.

Khabab berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. RasuluLlah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no. 3897 )

Selamat jalan wahai Mush’ab, semoga Allah meridhoimu…

Sungguh sejarah akan terus mencatat namamu yang mulia…

 

20160315214810

Related For TELADAN DARI MUSH’AB BIN ‘UMAIR


Copyright © 2013 MAJELIS AHBABURROSUL