SECANGKIR KOPI

Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru ngaji mereka dulu. Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas & beberapa cangkir kopi yang berbeda². Mulai dari cangkir yg terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik.

Sang Guru menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing – masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, sang guru berkata: ” Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus & kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tiada menarik.

Memilih hal yg terbaik adalah wajar & manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yg bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yg dipegang orang lain dan mulai membanding-bandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya.

” Hidup kita adalah seperti KOPI, sedangkan CANGKIRNYA adalah : pekerjaan, jabatan, & harta benda yang kita miliki.”

Cara menikmati kehidupan hampir sama dengan menikmati kopi. Kenikmatan kopi tidak tergantung dengan cangkir atau gelas. Demikian juga kenikmatan kehidupan tidak tergatung dengan harta dan kedudukan. Kenikmatan kehidupan adalah bagaimana CARA menikmati, yaitu dengan sabar, syukur dan ikhlas…..

(Maqolah Habibana dalam renungan yang dalam)

Dipublikasi di Tulisan Habib | Tinggalkan Komentar

hukum minum

Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad..
rasul melarang kita minum sambil berdiri,tetapi jika yang diminum air zam-zam,tak mengapa..mengapa bisa begitu…??apa hikmahnya..??
trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm

Dipublikasi di Samudera Ilmu | Tinggalkan Komentar

Do’a Sayidina Faqih Muqodam

اجازة الدعاء سيدنا الفقيه المقدم بسيد الشريف سيف علوى ابن محمد ابن محمد علي ابن احمد زكريا با علوى الحسيني

oleh Habib Alwi Ba-Alawy pada 24 Januari 2011 jam 0:36

بسم الله الرحمن الرحيم

اَللّهُمَّ انْـقُلْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الشَّقَاوَةِ اِلَى السَّعَادَةِ, وَمِنَ النَّارِ اِلَى اْلجَنَّةِ, وَمِنَ اْلعَذَابِ اِلَى الَّرحْمَةِ, وَمِنَ الُّذُنُوْبِ اِلَى الْمَغْفِـرَةِ,وَمِنَ الاسَاءَةِ اِلَى الاحْسَانِ,وَمِنَ الخَوْفِ اِلَى الامَانِ, وَمِنَ اْلفَـقْـرِ اِلىَ اْلغِنَى, وَمِنَ الذُّلِّ اِلَى اْلعِزِّ, وَمِنَ الاهَانَةِ اِلَى الرَّحْمَةِ,وَمِنَ الضَّيْقِ اِلَى السَّعَةِ,وَمِنَ الشَّرِّ اِلَى اْلخَيْرِ,وَمِنَ اْلعُسْرِ اِلَى اْليُسْرِ,وَمِنَ الادْبَارِ اِلَى اْلِإقْبَالِ,وَمِنَ السُّقْمِ اِلَى الصِّحَّةِ,وَمِنَ السُّخْطِ اِلَى الِّرضَى,وَمِنَ الْغَفْلَةِ اِلَى الْعِبَادَةِ,وَمِنَ اْلفَتْرَةِ اِلَى اْلِإجْتِهَادِ,ومِنَ اْلخِذْلَانِ اِلَى الّتَوْفِيْق, وَمِنَ اْلبِدْعَةِ اِلَى السُّنَّةِ,وَمِنَ اْلجَوْرِ اِلَى اْلعَدْلِ, اَللّهُمَّ اَعِنَّا عَـلَى دِيْنِ اْلِإسْلَامِ بِالّدُنْيَا وَعَلَى الّدُنْيَا بِالتَّقْوَى وَعَلَى التَّقْوَى بِاْلعَمَلِ وَعَلَى اْلعَمَلِ بِالتَّوْفِيْقِ وَعَلَى جَمِيْعِ ذلِكَ بِلُطْفِكَ اْلمُفْضِى اِلَى رِضَاكَ اْلمُنْهِي اِلَى جَنَّتِكَ اْلمَصْحُوْبِ,ذلِكَ بِالنَّظَرِ اِلَى وَجْهِكَ اْلكَرِيْمِ,(يَا اَلله,يَا اَلله,يَا اَلله),(يَا رَبَّاهُ يَا رَبَّاهُ يَا رَبَّاهُ),(يَا غَوْثَاهُ يَا غَوْثَاهُ يَا غَوْثَاهُ), يَا اَكْرَمَ اْلَأكْرَمِيْنَ يَا رَحْمنُ يَا رَحِيْمُ, يَاذَالجَلَالِ وَاْلِإكْرَامِ, يَا ذَااْلمَوَاهِبِ اْلعِظَامِ, اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمِ الّذِىْ لآ اِلهَ اِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ, اَللّهُمَّ اِنِّى اَسْاَلُكَ التَّوْفِيْقَ لِمَحَــابِّكَ مِنَ اْلأَعْمَالِ وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ وَاْلغُنْيَةَ عَمَّنْ سِوَاكَ, اِلــهِى يَا لَطِيْفُ يَا رَزَّاقُ يَا وَدُوْدُ يَا قَوِيُّ يَا مَتِيْنُ, اَسْأَ لُكَ تَأَهُّـلًا بِكَ وَاسْتِغْرَاقًا فِيْكَ وَلُطْفًا شَامِلًا  مِنْ لَدُنْكَ وَرِزْقًا وَاسِعًا هَنِيْأً مَرِيْأً وَسِنًّا طَوِيْلًا وَعَمَلًا صَالحِاً فِى اْلِإيْمَانِ وَاْليَقِيْنِ وَمُلَازَمَةً فِى اْلحَقِّ وَالدِّيْنِ وَعِزًّا وَشَرَفًا يَـبْقَى وَيَـتَأَ بَّدُ لَا يَشُوْبُهُ تَكَبُّرٌ وَلَا عُـتُوٌّ وَلَا فَسَادٌ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ,وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِه وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ.

اَلْفَاتِحَةَ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ اْلمُصْطَفَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلهِ وَسَلَّمَ وَاِلَى حَضْرَةِ اْلِإمَاِم سَيِّدِنَا اْلفَقِيْهِ اْلمُقَدَّمِ اَلْحَبِيْبِ مُحَمَّدِ ابْنِ عَلِىْ بَا عَلَوِى رَضِىَ اللهُ عَنْهُ وَاُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ وَذَوِى اْلحُقُوْقِ عَلَيْهِ اَجْمَعِيْنَ الفاتحة….

اَلْفَاتِحَةَ اِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِالشَّرِيْفِ سَيْفْ عَلْوِى بِنْ مُحَمَّدْ مِصْبَاحْ اِبْنِ مُحَمَّدْ عَلِيْ حَسَنْ اِبْنِ اَحْمَدْ زَكَرِيَّا اِبْنِ مُحَمَّدْ شَرِيْفْ عَظْمَتْ خَانْ بَا عَلَوِى اَلْحُسَيْنِى اَطَالَ اللهُ عُمْرَهُ فِى صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَبَرَكَةٍ وَاجْعَلْهُ وَاَهْلَهُ وَمُرِيْدَهُ مِنْ اَهْلِ لآاِلهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَمِنْ اَهْلِ نِظَامِ الصَّلَوَاتِ عَلَى النَّبِيِّ وَمِنْ اَهْلِ السَّلَامَةِ وَالسَّعَادَةِ وَاْلكَرَامَةِ وَاْلعَافِيَةِ وَاْلعِلْمِ وَاْليَقِيْنِ وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ الْمُطْمَئِنِّيْنَ الشَّاكِرِيْنَ الشَّاهِدِيْنَ الْمُقَرَّبِيْنَ اْلمُجَاهِدِيْنَ اْلمُخْلَصِيْنَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَكَرَامِهِ الفاتحة…

 

Dipublikasi di Tulisan Habib | Komentar Dimatikan

soflens

Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad..
bagaimanakah hukum menggunakan softlens,apalagi hanya untuk gaya-gayaan..
trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm

Dipublikasi di Pertanyaan Jamaah | 1 Komentar

murtad

Assalamualaikum warahmatullahi,wabarakatuh,wamaghfiratu.. semoga kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya selalu menaungi hari hari ustad..
bagaimana hukum orang yang murtad kemudian dia masukk islam lagi..??
trima kasih banyak atas waktu dan perhatiannya,wassalammualaikum wr.wb.wm

Dipublikasi di Pertanyaan Jamaah | 1 Komentar

PETUNJUK HIKMAH SAAT BERTAFAKKUR

PETUNJUK HIKMAH SAAT BERTAFAKKUR DI MASJID AGUNG KARAWANG

SESAAT MENUNGGU MASUK WAKTU DZUHUR (JUM’ATAN)

tgl.5 Romadlon 1432 H

__________________________________________________________________

قال رسول الله فان خلوف افواههم حين يمسون اطيب من ريح المسك

Arti: Bau busuk mulut mereka yang berpuasa pada sore harinya lebih harum menurut Alloh dibanding wangi misik.. Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Tulisan Habib | Komentar Dimatikan

Maulid / Milad / Syukuran atas ni’mat Umur

Ucapan Salam memang tidak ada qoyyid khusus yg membatasi pengucapannya. Bahkan Rosululloh menganjurkan kita agar membiasakan mengucapkan selamat (salam) tatkala bertemu. Walaupun orang yg kita temui itu baru saja mendapatkan musibah yg besar.

Begitupula kita diperintahkan untuk mengucap salam kepada Baginda Rosul.

“ULANG TAHUN” hanya sebuah judul, disebut sebagai “DZIKRUL JUZ-I BI-IROODATIL KULLI” artinya : menyebutkan satu bagian dengan maksud keseluruhan.

Dalam ULANG TAHUN berarti adanya sebuah ni’mat yg besar yg patut disyukuri. Dan pada hari haul tersebut bukanlah hanya ni’mat umur saja yg disyukuri, namun keseluruhan ni’mat dari Alloh. Dan menjadi ajang pengkoreksian diri (tafakkur).

Tidak ada yg melarang mengucapkan salam dan do’a pada kesempatan tertentu, karena Rosululloh pun sering mendo’akan dan menyanjung beberapa Sahabat-nya tatkala mereka mencapai suatu keberhasilan dlm amal sholeh. Bahkan ada beberapa shohabat yg tatkala disanjung dan dido’akan oleh Rosul, seketika itu pula mereka (para sahabat) memutarkan badan berkali2 sebagai ekpresi bahagia (seperti tarian Habsyi /Afrika) yang dikenal dengan whyrling, dan Rosululloh tersenyum melihatnya.

Bahkan perihal Peringatan Syukuran Ulang Tahun / milad /maulud ( apapun sebutannya), Coba perhatikan sebuah hadits:

Su-ila Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi wasallama ‘an shoumil itsnaini, faqoola: fiihi wulidtu wafiihi unzila alayya”.

Yang artinya :Telah ditanya Rosululloh SAW, perihal shaum dihari senin (yg bahkan disayari’atkan pada ummat), Beliau menjawab: Dihari itu Aku dilahirkan, dan dihari itu juga Aku mendapatkan wahyu”.

Dalam pelaksanaan syukuran itu, boleh hanya dengan ucapan2 dzikir kepada Alloh seperti Alhamdulillah, atau Nasykuru ilaika Yaa Robbii, atau boleh dengan ucapan dzikir yang lainnya. Boleh dengan bershodaqoh atau silaturrahim dengan diniatkan syukuran, boleh dengan sholat, puasa, BOLEH DENGAN MEMBANGUNKAN MAJELIS AHBABURROSUL (Insya Allah AAmiin), atau boleh juga dengan menghajikan orang tua kita, dll.

Mau dg ceremonial ataupun tidak, tidak ada larangan. Yang terlarang hanya bila semua kegiatan/ceremoni itu dicampur dengan kemunkaran atau perbuatan yang dilarang agama atau melanggar syar’i.

Saya sangat bersyukur kepada Alloh, dan bersyukur pula pada teman2 semua yg telah mendo’akan selamat dan keberkahan lainnya untuk saya. Semoga Alloh membalasnya.

Jadi…,saudara2ku, tidak perlu takut disebut Ahli Bid’ah yang dzolalah bila kita mengamalkan hal diatas sebab sudah di-Nash bahwa kegiatan diatas termasuk bid’ah yang Hasanah, apalagi yang kita ikuti adalah langkah baginda Rosul tercinta.

Mau maulid Nabi, mau maulid ummat, mau dinamakan ulang tahun, mau dinamakan milad,itu sah2 saja. Gak usah gerah bila dilain kesempatan ada yg ngotot bahwa itu keluar jalur (anjlok kaleeeee), karena biasanya yg mempermasalahkan hal ini adalah KAUM WAHABI (kaum marjinal=kata bang madid yg terlanjur kaya disinetron islam ktp yg ada bapa TB-nya), saya nyatakan mereka KAUM MUNAFIQ.

Buktinya milad PKS ke-13 beberapa minggu lalu. Perayaan ulang tahun anak2nya. Bahkan sekitar dua minggu yg lau PT.TMMIN (Toyota) berulang tahun (milad) yg ke-40, dan banyak gembong wahabi disana. Dan ternyata voucher uang seharga Rp.800.000 hingga Rp.2.000.000 (sesuai level) berikut bingkisan makanan istimewa yg dibagikan ternyata kaum wahabi itu lebih senang menerimanya, hinga jama’ah AHBABURROSUL membuat ma’lumat (SAYEMBARA) kepada ummatnya wahabi yg ada disana:”Bagi Ummat wahabi yg ada di Toyota yg begitu banyak, kami majelis AHBABURROSUL siap menerima dan menyalurkan voucher belanja dan bingkisannya”.

Eeeeeee…h ternyata GAK ADA yang mau ngasih. Saya bersama Umi dan jama’ah ke carefore (maaf bukan promosi) untuk belanja persiapan kedatangan Syekh Maulana Gibril Fouad Haddad, ternyata banyak ummat wahabi yg saya kenal belanja pake voucher itu. ini salah satu bukti ketidak konsistenan mereka (dengan hujah maulidnya).

Begitu pula saat selesainya acara MAULIDIRROSUL yg digelar Majelis AHBABURROSUL kami membagikan makanan2 suguhan maulid kepada warga komplek kami yang berideologikan wahabi, seraya jama’ahpun menyuguhkannya dengan berkata:”ini makanan hidangan maulid, silakan dimakan”. Alhamdulillah sambil ngumpul2 di pos ronda, mereka semua lahap makannya. Jadi sebenarnya HUKUM PERUT APA HUKUM SYAR’I?

Maafkan saya wahai saudara2ku, saya coba jelaskan ini secara proporsional saja agar dapat difahami, sehingga bila kita bersama memahami satu sama lain, niscaya kita akan kokoh dalam tali Ukhuwwah Islamiyyah.

Semoga Alloh membukakan qolbu kita semua dengan ilmu dan ‘amal sholeh.

Afwan katsiiron,
Alfaqir Alwi bin Muhammad Ba-Alawy.

Dipublikasi di Samudera Ilmu | Komentar Dimatikan

KELUPUTAN SYEIKH AL-ALBANI (Bag 5 Habis)

No 38 (Hal. 157 nr.1) Kanan Ibn Abdullah An-Nahmy : Al-Albani berkata dalam Shohihah, 3/481 ; “Kanaan telah dianggap sebagai Hasan, untuk itu telah dinyatakan oleh Ibn Ma’een. Kemudian Al-Albani menyangkal sendiri dengan katanya “ Ada kelemahan pada Kanaan” (lihat Daeefah, 4/282) !!

No 39 (Hal.158. nr.2) Maja’a Ibn Al-Zubair : Al-Albani telah melemahkan Maja’a dalam Irwa al-Ghalil, 3/242, dengan katanya. “ Ini adalah sanad yang lemah sebab Ahmad telah berkata ‘ Tidak ada kesalahan dengan Maja’a, dan Daraqutni telah melemahkan dia…’“. Al-Albani telah membuat kontradiksi dalam bukunya Shohihah 1/613 dengan mengatakan “ Perawi-perawinya bisa dipecaya kecuali Maja’a, itu seorang perawi hadits yang baik“. Suatu pertentangan yang menakjubkan !!!

No 40 (Hal. 158 nr.3) Utba Ibn Hamid Al-Dhabi; Al-Albani telah melemahkan dia dalam Irwa al-Ghalil 5/237 sambil katanya ; “ Dan ini adalah sanad lemah yang mempunyai tiga kekeliruan….kekeliruan kedua ialah kelemahan dari al- Dhabi, Hafiz berkata ; ‘ Seorang perawi jujur dengan khayalan’ . Kemudian Al-Albani membuat kontradiksi yang nyata dalam Shohihah 2/432, dimana dia ber- kata tentang sanad yang menyebut Utba; ”Dan ini sanad yang baik (Hasan), Utba ibn Hamid al-Dhabi dapat dipercaya…..tapi mempunyai khayalan, dan lain daripada sanad perawi itu semuanya dapat dipercaya”.

No 41 (Hal. 159 nr. 4) Hisham Ibn Sa’ad ; Al-Albani berkata dalam Shohihah 1/325; “ Hisham ibn sa’ad ialah perawi hadits yang baik”. Kemudian dia bertentangan sendiri dalam Irwa al-Ghalil 1/283 sambil katanya ; “Tapi Hisham ini lemah dalam hafalan”. Sesuatu yang mengherankan !!

No 42 (Hal.160 nr. 5) Umar Ibn Ali Al-Muqaddami ; Al-albani telah melemahkan dia dalam Shohihah 1/371, dimana dia berkata ; “ Dia merasa dirinya bisa dipercaya, tapi dia sebagai Pemalsu yang sangat jelek, dengan menjadikan dirinya tidak dipercayai…” Al-Albani membuat kontradiksi baru lagi dalam Shohihah 2/259 mengakui dia (Umar ibn Ali) dan mengatakan bila ada sanad yang menyebut Umar Ibn Ali maka bisa dipercayainya. Al-Albani berkata “ Diklasifikasikan oleh Hakim yang mana berkata : “Shohih isnadnya” (rantaian perawinya) dan Al-Dhahabi mengakuinya juga dan mereka (berdua) mengatakan demikian adalah benar “. Itu sangat mengherankan !

No 43 (Hal. 160. nr. 6) Ali Ibn Sa’eed Al-Razi ; Al-Albani telah melemahkan dia dalam Irwa 7/13, dengan katanya : “Mereka telah mengatakan tidak ada yang benar tentang al-Razi” Dia kemudian menyangkal sendiri dalam ‘buku lainnya yang ‘indah/hebat’ Shohihah, 4/25, sambil mengatakan “Ini adalah baik (Hasan) sanadnya dan perawi-perawinya semua bisa dipercaya”. Berhati-hatilah !!

No 44: (Hal. 165 nr. 13) Rishdin Ibn Sa’ad : Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/79 : “ Ada dalam sanad Rishdin ibn Sa’ad, dan dia telah menyatakan bisa dipercaya”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam penyataannya yang mengatakan Lemah tentang dia (Rishdin) dalam Daeefah 4/53, dimana dia berkata : “dan Rishdin ibn Sa’ad ini juga lemah “. BERHATI-HATILAH !!

No 45 (Hal. 161 nr. 8) Ashaath Ibn Ishaq Ibn Sa’ad : Betapa mengherankan lelaki (Al-Albani) ini !! Terbukti, dia berkata dalam Irwa al-Ghalil 2/228, “Keadaannya/statusnya tidak dikenal, dan hanya Ibn Hibban mempercayai dia”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri, seperti kebiasaannya! Karena dia hanya mengalihkan/menyalin dari buku-buku dan tidak ada lain- nya, dan dia mengutip/menyalin tanpa adanya ilmu pengetahuan. Ini dibukti- kan dalam Shohihah 1/450, dimana dia berkata tentang Ashaath : “Dapat dipercaya”. Keajaiban yang luar biasa!!

No 46: (Hal.162 nr.9) Ibrahim Ibn Haani : “Paling terhormat ! Paling Pandai ! Tukang Menyalin ! Dia (Albani) telah membuat Ibn Haani ‘dapat dipercaya‘ disatu tempat dan membuat dia ‘tidak dikenal’ ditempat lainnya.. Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/426; “ Ibrahim ibn Haani ialah dapat dipercaya”, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeeah, 2/225 dengan katanya “bahwa dia itu tidak dikenal dan haditsnya itu tertolak ! “.

No 47: (Hal. 163 nr. 10) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi ; Al-Albani memperbaiki sanad sambil mengatakan itu baik dalam Irwa 8/7, dengan kata-kata : “ Dan sanad tersebut adalah baik , perawi-perawi semua dapat dipercaya, kecuali Ibn Abdullah al-Kufi dia adalah jujur “. Dia kemudian kontradiksi sendiri dengan melemahkan sanad dari hadits yang diketemukan al-Ijlaa dan dia membuat alasan baginya untuk menyatakannya lemah (lihat Daeefah 4/71) , dimana dia berkata: “ Ijlaa ibn Abdullah mempunyai kelemahan “ Al-Albani menukil kata-kata Ibn al-Jawzi’s (Rahimahullah) yang berkata ; “ Al-Ijlaa tidak mengetahui apa yang dia katakan “ !!!

No 48: (Hal. 67-69) Abdullah Ibn Salih: Kaatib Al-Layth: Al-albani telah mengeritik Al-Hafiz al-Haitami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi dan ahli hadits Abu’l-Fadzl al-Ghimari (rh) dalam bukunya Silsilah al-Daeefah 4/302, waktu mengontrol hadits yang didalamnya ada perawi Abdullah ibn Salih. Dia (Albani) berkata pada halaman 300 ; “Bagaimana dapat Ibn Salih menjadi benar dan haditsnya menjadi baik, dia sendiri sangat banyak membuat kesalahan dan yang mana juga memasukkan beberapa hadits palsu didalam bukunya, dan dia meyebutkan sanad-sanadnya tapi dia sendiri tidak mengenal mereka.”

Dia (Albani) tidak menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih ialah salah satu orang dari orang-orangnya Imam Bukhori (yaitu dipakai oleh Bukhori), karena (Albani) tidak cocok dengan caranya (Albani) dan dia (Albani) tidak menyebutkan bahwa Ibn Ma’een dan beberapa kritikus dari hadits telah mempercayai dia (Abdullah Ibn Salih). Al-Albani telah berlawanan dengan perkataannya sendiri, dalam tempat lain dibuku-bukunya telah mengatakan bahwa semua hadits yang diketengahkan Abdullah ibn Salih adalah baik, sebagai berikut :

Al-Albani berkata dalam de Silsilah Al-Shohihah, 3/229 : “ Dan sanad itu baik, karena Rashid ibn Saad telah disepakati dapat dipercaya dan lebih rendah dari dia dalam lingkungan orang-orang yang Shohih dan juga Abdullah ibn Salih telah mengatakan sesuatu yang tidak bahaya dengan bantuan Allah “Al-Albani juga berkata dalam Shohihah 2/406 mengenai sanad yang didalamnya ada Ibn Salih “sanad berkesinambungan yang baik” Dan lagi dalam Shohihah 4/647; “Dia adalah bukti dalam berkesinambungan”

NB: (kemudian Syeikh Seggaf meneruskan dengan beberapa wejangan yang penting, demi keringkasan sengaja tidak diterjemahkan , tetapi bila orang ingin merujuknya bisa lihat bahasa Arabnya). Dengan karunia Allah, ini telah cukup dari buku-buku Syeikh Seggaf untuk meyakinkan siapa saja yang mencari kebenaran, biarkan orang-orang itu sendiri bersama-sama mengetahui sedikit tentang ilmu hadits.

Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Yang Terhormat Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani’ oleh ‘Al-Alamah Syeikh Muhamad Ibn Ali Hasan As-Saqqof’ dimana dalam kitabnya tersebut beliau (Rahima- hullah) menunjukkan ± 1200 kesalahan dan penyimpangan dari Syeikh Al-Albani dalam kitab-kitab yang beliau tulis seperti contoh diatas. Maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa bidang ini tidak dapat digeluti oleh sembarang orang, apalagi yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyadang gelar ‘Al-Muhaddits’ (Ahli Hadits) dan tidak memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadits dari Universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para Masyaik’h yang memang ahli dalam bidang ini.

Dipublikasi di Samudera Ilmu | Komentar Dimatikan

KELUPUTAN SYEIKH AL-ALBANI (Bag 4)

No.27 (Hal. 32) Dia (Albani) memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami didalam Shahih al Targhib wa Tarhib hal. 63 yang mana katanya ; “Saya ingin agar engkau mengetahui satu dari beberapa hal bahwa saya memberanikan diri untuk….yang dikomentari oleh ulama yang terkenal dan terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “…. dan dia (Albani) mengatakan pada halaman yang sama “Dan apa yang membuat saya rindu untuknya, orang yang menyelidiki sesuatu dan mengumumkannya yaitu yang terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “. Al-Albani memuji Syeikh al-Azami dalam buku yang tersebut diatas. Tapi kemudian membuat penyangkalan dalam ‘Adaab uz Zufaaf (Akhlak Perkawinan dan Pernikahan), edisi baru hal.8 yang dia berkata; Al-Ansari telah membiasakan akhir dari tulisannya, salah satu musuh dari Sunnah, Hadits dan Tauhid, yang cukup terkenal , ialah Syaikh Habib al-Rahman al-Azami……karena ketakutan dan kekurangan ilmunya….””

NB: (Kutipan diatas dari ‘Adaab uz Zufaaf , tidak terdapat didalam terjemahan bahasa Inggris oleh pendukung-pendukungnya yang mana menunjukkan bahwa mereka dengan sengaja tidak mau menterjemahkan bagian-bagian tertentu). Ini perlu diperhatikan !

Terjemahan-terjemahan pilihan dari jilid (volume) 2

No.28 (Hal.143 nr.1) Hadits dari Abi Barza ra: “ Demi Allah, Engkau tidak akan menemukan seorang lebih benar dari saya “(Sunan Al-Nisai 7/120 nr. 4103) Al-Albani berkata bahwa hadits ini Shohih dalam Shohih Al-Jami wa Ziyadatuh 6/105 nr.6978 dan kemudian lebih mengherankan dia bertentang- an dengan perkataannya dalam Daeef Sunan Al-Nisai hal. 164 nr. 287 yang mengatakan itu Lemah. HATI-HATILAH DARI PENGACAUN INI !

No 29 (Hal. 144 nr. 2) Hadits dari Harmala ibn Amru al-Aslami dari pamannya: “Letakkanlah batu kerikil pada ujung ibu jari diatas jari depan (telunjuk) pada lemparan jumrah “ (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 nr.2874). Al-Albani memberitahu kelemahan ini (hadits) dalam Shohih Ibn Khuzaima sambil mengatakan sanad hadits ini Lemah, tapi kemudian dia bertentangan sendiri yang mengatakan Shohih dalam “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !”

No 30 (Hal. 144 nr.3) Hadits dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : “Rasulallah saw. ditanyai tentang Junub (orang yang belum suci setelah bersetubuh) …apa boleh dia makan atau tidur…Beliau saw. bersabda : Boleh, bila orang ini wudu dahulu “ (Ibn Khuzaima nr. 217 dan Ibn Majah nr.592). Al-Albani telah mengikrarkan kelemahannya didalam komentarnya di Ibn Khuzaima 1/108 nr. 217, Tetapi kemudian kontradiksi sendiri dengan membenarkan hadits tersebut dalam Shohih Ibn Majah 1/96 nr. 482).

No. 31 (Hal.145 nr.4) Hadits dari Aisyah ra ; “ Perahu sebagai perahu (berlayar) dan makanan sebagai makanan “ (Nasai 7/71 nr. 3957). Al-Albani mengatakan hadits ini Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/13 nr.1462, tetapi kemudian menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef Sunan al-Nisai nr. 263 hal. 157. !!

No 32 (Hal.145 nr. 5) Hadits dari Anas ra : “Mintalah setiap kamu pada Allah semua yang engkau butuhkan walaupun mengenai tali sandalnya bila telah putus” Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan dalam penyelidik- annya di Mishkat 2/696 nr. 2251 dan 2252, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeef al-jami wa Ziyadatuh 5/69 nr. 4947 dan 4948 !!

No. 33 (Hal.146 nr.6) Hadits dari Abu Dzar ra : “Bila engkau ingin berpuasa, maka puasalah pada bulan purnama tanggal 13, 14 dan 15 “ . Al-Albani menyatakan hadits ini Lemah dalam Daeef al-Nisai hal. 84 dan dalam komentarnya di Ibn Khuzaima 3/302 nr. 2127. Tetapi kemudian kontradiksi sendiri yang menyebutnya Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/10 nr. 1448 dan pula membenarkan itu dalam Shohih al-Nisai 3/902 nr. 4021 !! Ini adalah kontradiksi yang besar !

NB: (Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Shohih al-Nisai dan dalam Daeef al-Nisai, ini semua menunjukkan bahwa dia tidak hati-hati/ceroboh atas apa yang telah dia perbuat, semuanya tidak layak)

No.34 (Hal. 147 nr.7) Hadits dari Siti Maymunah ra ; “ Tidak seorangpun yang menerima pinjaman dan itu (selalu)dalam pengetahuan Allah” (Nisai, 7/315 dan lain-lain). Al-Albani berkata dalam Daeef al-Nisai hal.190 ; ‘Shohih, kecuali bagian al-Dunya’. Kemudian dia menayangkal sendiri dalam Shohih al Jami wa Ziyadatuh 5/156, dengan mengatakan bahwa semua Hadits ini Shohih termasuk bagian al-Dunya. Ini kontradiksi yang sangat menakjubkan !

No.35 (Hal. 147 nr. 8) Hadits dari Buraidah ra: “Mengapa saya melihat engkau memakai perhiasan dari penghuni neraka (Maksudnya cincin besi)”. (Nisai 8/172 dan lain-lainnya….). Al-albani telah mengatakan hadits in Shohih dalam Shahih al-jami wa Ziyadatuh 5/153 nr. 5540. Tetapi kemudian dia menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef al-Nisai hal.230) !

No.36 (Hal.148 nr. 9) Hadits dari Abu Huraira ra ; “ Siapapun membeli permadani untuk diduduki, dia mempunyai waktu tiga hari untuk menyimpan- nya atau mengembalikannya dalam beberapa waktu selama warnanya tidak menjadi coklat (karena kotor) ”. (Nisai 7/254 dan lain-lainya). Al-Albani telah melemahkan hadits ini pada bagian “tiga hari” dengan menyebut referensi- nya dalam Daeef Sunan al-nisai hal. 186, sambil katanya “Benar/Shohih kecuali kata-kata tiga hari”.Tetapi ‘orang cerdik ini’ menyangkal sendiri dengan membenarkan hadits itu dan termasuk bagian kata-kata “tiga hari” dalam Shohih al-jami wa Ziyadatuh 5/220 nr. 5804“. Bangunlah hai al-Albani!

No.37 (Hal. 148 nr.10) Hadits Abu Hurairah ra : “Siapapun yang mendapati satu raka’at dari Sholat Jum’at itu telah memadainya (untuk semua sholat)”. (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 dan lain-lainnya). Al-Albani telah melemahkan ini dalam Daeef Sunan al-Nisai, nr. 78 hal. 49, dimana dia telah berkata; ‘Luar biasa (shadh), bilamana disitu disebutkan hari jumat’. Kemudian dia kontradiksi sendiri dengan mengatakan Shohih termasuk bagian hari Jum’at dalam Irwa, 3/84 nr. 622 !! Semoga Allah menyembuhkanmu !

Dipublikasi di Samudera Ilmu | Komentar Dimatikan

KELUPUTAN SYEIKH AL-ALBANI (Bag 3)

Setelah sebelumnya dijelaskan beberapa keluputan-keluputan Syeikh Al-Albani dalam mendho’ifkan hadits-hadits rasulullah saw 1-14, kali ini berlanjut ke nomor 15 yaitu masih banyak contoh kontradiksi dari Al-Albani! FURTHER EXAMPLES OF AL-ALBANI’S CONTRADICTIONS !

No.15. (Hal.7) Al-Albani mengeritik Imam Al-Muhaddith Abu’l Fadl Abdullah ibn Al-Siddiq Al-Ghimari (Rahimahullah) waktu mengetengahkan hadits dari Abu Hurairah ra. dalam kitabnya Al-Kanz Al-Thameen yang bertalian dengan perawi Abu Maymuna ; ‘Sebarkan salam, beri makan orang-orang miskin..’

” Al-Albani berkata dalam Silsilah Al-Daifa, 3/492 setelah merujuk hadits ini pada Imam Ahmad 2/295 dan lain-lain : Saya berkata bahwa sanadnya lemah, Daraqutni juga berkata ‘Qatada dari Abu Maymoona dari Abu Hurairah tidak dikenal dan itu harus dikesampingkan “. Al-Albani berkata pada halaman yang sama; ‘Pemberitahuan, pukulan bagi Suyuti dan Munawi, waktu mereka menemukan hadits ini, dan saya juga telah menunjuk kan dalam referensi yang lalu nr. 571 bahwa Al-Ghimari itu telah salah menyebutkan (hadits) itu dalam Al-kanz.

Tetapi sebenarnya Al-Albani-lah yang terkena pukulan, sebab sangat bertentangan dengan perkataannya dalam Irwa Al-Ghalil, 3/238 yang meng gunakan sanad yang sama, katanya: ‘ Diklasifikasikan oleh Ahmad (2/295), al-Hakim….dari Qatada dari Abu Maymuna dan orang mepercayainya sebagaimana yang disebutkan didalam buku Al-Taqreeb dan Hakim berkata; Sanad yang shohih dan Al-Dhahabi sepakat dengan Hakim !

Begitulah Allah langsung melihatkan kesalahan tersebut ! Sekarang siapa- kah yang selalu salah; Ahli hadits( Al-Ghimari, Suyuti, Munawi) atau Al-Albani ?

No 16 (Hal.27 no. 3) Al-Albani mau melemahkan hadits yang membolehkan wanita memakai perhiasan emas dan dalam sanad hadits itu ada Muhammad ibn Imara. Al-Albani menyatakan bahwa Abu Haatim berkata perawi ini ” tidak kuat “, lihat buku Hayat Al-Albani wa-Atharu ..jilid 1 hal.207.

Yang benar ialah bahwa Abu Haatim Al-Razi dalam buku ‘Al-Jarh wa-Taadeel, 8/45 berkata: “ Perawi yang baik tapi tidak sangat kuat….” Jadi lihat pada catatan Al-Albani bahwa kalimat “Perawi yang baik “ dibuang !

NotaBene: Al-Albani telah membuat/menulis banyak hadits yang menyata- kan larangan emas (dipakai) untuk wanita menjadi Shohih, padahal kenyataannya para Ulama lain menyatakan hadits-hadits ini lemah dan berlawanan dengan hadits Shohih yang memperbolehkan pemakaian (perhiasan) emas oleh kaum wanita. Salah seorang Syeikh ‘Salafiah’ terkenal, Yusuf Al-Qardawi berkata dalam bukunya Islamic awakening between rejection and extremism, halaman 85 : “Dalam zaman kita sendiri Syeikh Nasir al-Din telah muncul dengan suatu pendapat yang bertentangan dengan kesepakatan tentang pembolehan wanita-wanita menghias diri mereka dengan emas, yang telah diterima/ disetujui oleh semua madzhab selama empat belas abad terakhir. Dia tidak hanya mempercayai bahwa sanad dari hadits-hadits ini dapat dipercaya, tapi bahwa hadits-hadits ini belum dicabut/dihapus. Maka dia percaya hadits-hadits tersebut melarang cincin dan anting-anting emas “. Lalu siapa yang merusak kesepakatan (ijma’) ummat dengan pendapat-pendapatnya yang ekstrem ?

No 17 (Hal. 37 no. 1) Hadits : Mahmud ibn Lubayd berkata; ‘Rasulallah saw. telah diberitahu mengenai seorang yang telah mencerai isterinya 3x dalam satu waktu, oleh karena itu dia berdiri dengan marah dan berkata; ‘Apakah dia bermain-main dengan Kitabullah, sedangkan aku masih berada dilingkungan engkau ? Yang mana berdiri seorang untuk berkata ; Wahai Rasulallah, apakah dia tidak saya bunuh saja ? (Al-Nisa’i).

Al-Albani menyatakan hadits ini lemah menurut penyelidikannya dari kitab ‘Mishkat Al-Masabih 2/981 cet.ketiga, Beirut 1405 A.H. de Maktab Al-Islami ‘ yang mengatakan “ Perawinya bisa dipercaya tapi isnadnya terputus atau tidak komplit, karena dia tidak mendengar langsung dari ayahnya”. Al-Albani berkata berlawanan dengan dirinya sendiri dalam buku Ghayatul Maram Takhreej Ahadith Al-Halal wal-Haram, nr. 261, hal. 164, cet.ketiga Maktab Al-Islami, 1405 A.H” telah mengatakan bahwa hadits itu Shohih !!

No 18 (Hal.37 no.2) Hadits; “Bila salah satu dari engkau tidur dibawah sinar matahari dan bentuk naungan telah menutupinya dan sebagian darinya didalam naungan dan sebagiannya lagi dibawah sinar matahari, maka dia harus bangun” . Al-Albani menyatakan hadits ini shohih dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761) tapi perkataannya berlawanan dengannya karena mengatakan hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari Mishkat ul-Masabih 3/1337 nr.4725 cet.ketiga dan dia merujuk hadits ini pada Sunan Abu Daud.

No. 19 (Hal.38 no. 3) Hadits : “Sholat Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim” Al-Albani menganggap hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari De Mishkat Al-Masabih, 1/434 dan katanya; Perawi dari hadits ini bisa dipercaya, tetapi terputus sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Daud. Kalau begitu dia bertentangan dengan perkataannya dalam’ Irwa Al-Ghalil 3/54 nr. 592’ dan mengatakan hadits ini Shohih ! Hati-hatilah sedikit, wahai orang bijaksana !

No.20 (Hal. 38 no. 4). Al-Albani membuat lagi kontradiksi. Dia disatu tempat mempercayai Al-Muharrar ibn Abu Huraira kemudian ditempat lain dia melemahkannya. Al-Albani menerangkan dalam Irwa Al-Ghalil 4/301 bahwa Al-Muharrar dengan bantuan Allah seorang yang dapat dipercayai dan Hafiz (Ibnu Hajar) berkata mengenai dia “dapat diterima”, tidak dapat diterima, dan oleh karenanya sanadnya Shohih.

Maka dia (Albani) berlawanan dengan omongannya dalam Shohihah 4/156 yang mana dia melemahkan sanad sambil mengatakan: ‘Perawi-perawi dalam sanad ialah semua orang-orang didalam Bukhori (lain kata orang-orang yang dicantumkan oleh Imam Bukhori) kecuali Al-Muharrar dia hanya salah satu dari orang-orang Nasa’i dan Ibn Majah . Dia tidak dipercaya oleh Ibn Hibban dan oleh karenanya Al Hafiz Ibn Hajar tidak mempercayainya, daripada itu dia hanya mengatakan “dapat diterima” .Hatilah-hatilah dari kebohongan !

No.21 (Hal. 39 no. 5) Hadits: Abdullah ibn Amr ra. “ Sholat Jumat wajib bagi orang yang sudah mendengar panggilan (adzan)” (Abu Daud). Al-Albani menyatakan hadits ini Hasan dalam “Irwa Al-Ghalil 3/58”, dan dia berlawanan dengan perkataannya yang menyatakan hadits ini lemah dalam Mishkatul Masabih 1/434 nr. 1375 !

No.22 (Hal. 39 no. 6) Hadits : Anas ibn Malik ra. berkata bahwa Rasulallah saw. telah bersabda: “Janganlah keras terhadap dirimu, dengan demikian Allah juga akan keras terhadapmu, bilamana manusia keras terhadap dirinya maka Allah akan keras juga terhadap mereka”. (Abu Daud). Al-Albani menurut penyelidikannya di Mishkat 1/64, mengatakan bahwa hadits ini lemah. Tapi dia lalu berlawanan dengan perkataannya di “Ghayatul Maram, hal. 141 bahwa hadits ini Hasan !!

No.23 (Hal.40 no. 7) Hadits dari ‘Aisyah ra : “Siapapun yang mengatakan bahwa Rasulallah saw biasa kencing dengan berdiri, janganlah dipercayai. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk” (Ahmad,Nasa’i dan Tirmidzi). Al-Albani dalam Mishkat 1/117 mengatakan sanad hadits ini lemah. Dia bertentangan dengan perkataannya di “Silsilat Al-Ahadits al-Shohihah 1/345 nr.201” bahwa hadits ini Shohih !

No.24 (Hal.40 no.8) Hadits : “Tiga macam orang yang malaikat tidak mau mendekatinya : Mayit orang kafir, lelaki yang memakai minyak wangi wanita dan orang yang telah berhubungan sex (junub) sampai dia bersuci ” (Abu Daud). Al-Albani telah membenarkan hadits ini dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh 3/71 nr. 3056 dengan mengatakan hadits itu Hasan dalam penyelidikan dari Al-Targhib 1/91 (juga mengatakan Hasan dalam Terjemahannya kedalam bahasa Inggris “The Etiquettes of Marriage and Wedding, page 11). Dia membuat kontradiksi yang nyata dalam penyelidikannya dalam Mishkatul-Masabih 1/144 nr. 464 mengatakan hadits yang sama ini Lemah, dan dia berkata bahwa perawi-perawinya patut di- percaya tapi rantai sanadnya terputus antara Hasan Basri dan Ammar sebagaimana yang disebutkan juga oleh Al-Mundhiri dalam Al-Targhib 1/91 !!

No.25 (Hal. 42 nO. 10) Telah sampai (riwayat) dari Malik rh “bahwa Ibn Abbas ra. biasa menyingkat (menggashor) sholatnya dalam jarak antara Makkah dan Ta’if atau antara Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah…..” Al-Albani telah melemahkannya dalam Mishkat, 1/426 nr.1351, dan dia bertentangan dengan perkataannya di Irwa al-Ghalil 3/14 yang mengatakan ini Shahih !

No. 26. (Hal.43 nO.12) Hadits : “Tinggalkan orang-orang Ethiopia selama mereka meninggalkanmu, sebab tidak ada orang yang mengambil barang berharga dari Ka’bah kecuali seorang Ethopia yang dua kakinya lemah” . Al-Albani dalam penyelidikannya di Mishkat 3/1495 nr. 5429 mengatakan sanadnya Lemah. Tapi sebagaimana biasa dia bertentangan dengan perkata- annya dengan membenarkannya dalam Shahihah 2/415 nr. 772 !

Dipublikasi di Samudera Ilmu | Komentar Dimatikan